Siapa saja, di mana saja, berapa kali pun.
- Gratis, tanpa akun. Cukup lewat browser.
- Tersedia dalam 15 bahasa. Belajar dengan bahasamu sendiri.
- Ketuk kartunya, suara yang sama diulang sampai kamu hafal.
Beberapa frasa untuk dicoba
Pilih bahasa yang ingin dipelajari
- English24,529 Grammar · All the words · Pronunciation · English at the Movies
- 中文14,437 Modern China, right now · Chinese education · Pronunciation · Grammar · Daily conversation 3000 · HSK phrases
- 日本語11,499 The kana · JLPT N5 - first steps · JLPT N4 - elementary · JLPT N3 - intermediate · JLPT N2 - upper intermediate · JLPT N1 — advanced · …
- Español3,753 Frasa per topik
- Bahasa Indonesia3,704 Bahasa Indonesia 2.000
- 한국어3,816 Bahasa Korea 2.000 · Pronunciation · TOPIK Level 1 · TOPIK 1 Vocabulary · TOPIK Level 2 · TOPIK 2 Vocabulary
Belajar bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Korea, Spanyol, dan Indonesia dengan mendengarkan di HEYGOW — gratis, tanpa pendaftaran. Setiap frasa dilengkapi audio penutur asli, cara bacanya, dan terjemahannya. Ketuk sebuah frasa dan frasa itu akan diputar berulang hingga Anda mengingatnya.
FAQ
Apakah HEYGOW gratis?
Apa saja yang bisa saya pelajari?
Bagaimana cara kerjanya?
Apakah saya perlu menginstal aplikasi?
Apakah cocok untuk pemula?
Bahaya belajar bahasa tanpa mendengar bunyinya, dengan pelafalan yang salah — bahasa Inggris maupun Mandarin sama-sama dimulai dari "minus"
Terus belajar bahasa hanya lewat tulisan, tanpa pernah mendengar bunyinya, dan dengan pelafalan yang keliru, bukan sekadar tidak efisien. Itu pemborosan waktu yang luar biasa besar, sekaligus tindakan yang menumpuk "minus". Yang menakutkan, ratusan jam bisa menguap begitu saja tanpa kita sadari sama sekali. Bahasa Inggris maupun Mandarin sama saja — bahkan untuk Mandarin yang bernada (empat nada / 四声), akibatnya jauh lebih parah.
Kenapa disebut "minus" — latihan bukan membangun "kemajuan", melainkan "menanamkan"
Yang dibentuk oleh latihan bukan "kemajuan", melainkan "penanaman". Kalau diulang dengan benar, yang tertanam adalah yang benar; kalau diulang dengan salah, yang tertanam adalah yang salah. Tidak ada pengecualian. Kalau bunyi yang berputar di kepalamu itu salah, maka yang kamu latih puluhan kali bukanlah bahasa itu, melainkan "bunyi salah versimu sendiri". Parahnya, ditambah rasa puas seolah "sudah belajar dengan sungguh-sungguh". Dalam ilmu bahasa hal ini disebut fosilisasi (fossilization), dan kesalahan yang sudah terukir dalam sangat sulit dicabut. Karena itu, salah menanamkan bisa lebih buruk daripada tidak menghafal sama sekali.
Situasi 1: Belajar dengan membuka buku dan membacanya, tanpa mendengar bunyinya
Ini pemandangan belajar yang paling umum. Tanpa menyentuh sumber suara, kita membaca dengan mata (atau dengan bersuara). Rasanya betul-betul seperti sedang belajar. Tapi selama kamu tidak mendengar bunyinya, setiap kata yang kamu baca adalah bunyi yang kamu tebak sendiri untuk "bunyi yang baru pertama kali kamu lihat". Otak tidak membiarkan ruang kosong; ia mengisinya dengan bunyi yang ada di tangan (bunyi bahasa ibu). Bahkan saat membaca dalam hati pun kita tetap membunyikannya di dalam kepala, sehingga di waktu-waktu tanpa suara pun kita diam-diam terus menimpakan kesalahan.
Kalau keadaan ini diteruskan: setiap kata baru yang kamu baca hari ini akan masuk ke ingatan sebagai "bunyi tebakan", tanpa terkecuali. Selama tidak melewati mekanisme yang memperdengarkan bunyi lebih dulu, "stok kesalahan" ini akan terus menumpuk diam-diam setiap hari. Yang kamu hemat cuma beberapa puluh detik, yang kamu korbankan ratusan kali lipatnya.
Situasi 2: Belajar dari guru non-penutur asli, dengan pelafalan yang "logat lokal"
Banyak orang belajar dari guru yang bukan penutur asli. Ini bukan soal menyalahkan gurunya — guru itu pun dulu belajar dengan cara yang sama. Masalahnya ada pada strukturnya. Yang kita terima dengan cara begini bukanlah bunyi asli penutur asli, melainkan "tiruan dari tiruan". Penyimpangan menumpuk turun-temurun lintas generasi. Kalau kamu belajar dari guru yang mencampur bunyi th dengan t/d/s (mengucapkan think jadi "tink", this jadi "dis"), maka kamu pun seumur hidup tak akan bisa membedakannya. Kalau bahasa Inggrismu kamu pelajari dari guru yang menekankan semua suku kata dengan datar tanpa word stress, tekanan katamu akan datar selamanya. Kalau kamu belajar Mandarin dari guru yang empat nadanya (四声) samar, empat nadamu akan samar untuk selamanya.
Yang hilang di sini: selama kamu terus lewat "bunyi tiruan", bertahun-tahun berlalu tanpa kamu sekali pun menyentuh "bunyi asli" penutur asli. Kalau tidak pernah menabrak bunyi aslinya langsung, akurasi tiruan dari tiruan itulah yang menjadi batas atas pelafalanmu. Tanpa sadar, kamu memasang plafon sendiri di atas potensi pertumbuhanmu.
Situasi 3: Buku kumpulan kosakata/frasa yang bahkan tanpa lambang fonetik
Ini mungkin yang paling kejam. Memuat ribuan kata, tapi tak ada lambang fonetik maupun sumber suara. Kamu disuruh "baca" kata yang belum pernah kamu dengar, bahkan tanpa satu petunjuk pun untuk menebaknya dengan benar. Hasilnya cuma satu: semua kamu baca dengan bunyi bahasa ibu. Dan sebanyak jumlah kata di buku itu, sebanyak itu pula fosil bunyi salah diproduksi massal. Ditambah rasa puas paling buruk: "satu buku sudah tamat kukerjakan".
Total yang hilang: makin "tamat" kamu mengerjakan buku tanpa suara dan tanpa lambang fonetik, makin banyak stok bunyi salah yang kamu timbun. Kalau formatnya bukan teks + suara penutur asli sejak awal, jumlah halaman akan langsung menjadi jumlah utang yang harus kamu kupas nanti. Buku yang makin tebal justru makin besar kerugiannya.
Yang paling menakutkan: "kemampuan menyimak" pun ikut rusak
Kesalahan pelafalan bukan cuma soal mulut. Sebab pelafalan dan penyimakan berbagi "citra bunyi" yang sama. Kalau suatu kata kamu ingat dengan "bunyi salahmu sendiri", maka label yang tertempel pada kata itu di otakmu adalah bunyi yang salah tadi. Maka begitu penutur asli mengucapkannya dengan bunyi yang benar, otakmu langsung memprosesnya sebagai "kata yang tidak kukenal". Kata yang seharusnya kamu tahu, malah tak bisa kamu tangkap. Bicara tidak nyambung, mendengar bunyi yang benar pun tidak paham — kerugian ganda.
Kenapa bertahun-tahun tetap tak bisa menyimak dan bicara — itu soal "jumlah pengulangan bunyi", bukan bakat
Sudah belajar bertahun-tahun tapi tetap tak bisa menangkap dan tak keluar dari mulut — keluhan yang amat banyak, tapi ini bukan soal pintar atau tidak. Penyebabnya jelas: hampir seluruh tahun-tahun itu kamu pakai untuk "mata", dan nyaris tidak untuk "telinga". Waktu untuk mendengar bunyi yang benar lalu menirukannya dengan mulut jauh dari cukup. Karena itu waktu bertahun-tahun tadi tidak terkonversi menjadi kemampuan menyimak dan berbicara. Yang dibutuhkan bukan "duduk di meja lebih lama lagi", melainkan mengubah "untuk apa" waktu yang sama itu dipakai — dengarkan bunyi yang benar, lalu suarakan. Sejak saat kamu memusatkan waktu pada satu titik ini, telinga dan mulut yang mandek mulai bergerak.
Bisa dijalankan "sambil lalu" — jalan santai, perjalanan kerja/sekolah, gym
"Mana ada waktu segitu" — justru waktu yang kamu kira "tidak ada" itulah yang setiap hari paling banyak kamu buang. Dengan bunyi murni + pengulangan tanpa batas, kamu tak perlu meja, tak perlu pena, bahkan mata pun tak perlu. Sekali ketuk, frasa yang sama mengalir terus tanpa henti. Sambil jalan santai. Di kereta atau angkutan menuju kantor dan sekolah. Sambil latihan di gym. Justru saat tangan dan mata sibuk, telinga dan mulut sedang menganggur. Alasan terbesar orang tidak berkembang — "total waktu menyentuh telinga kurang" — bisa kamu atasi tanpa mengubah gaya hidup.
Waktu yang menguap tiap hari kalau tak dipakai: makin banyak hari saat "waktu sambil lalu" ini tidak kamu alihkan ke telinga, makin banyak puluhan menit kemampuan menyimak dan berbicara — yang sebenarnya bisa kamu dapat cuma-cuma — menguap begitu saja dari harimu tiap hari. Harga yang kamu bayar bukan "tidak melakukan apa-apa", melainkan "terus kehilangan setiap hari".
1 frasa × puluhan kali membuatnya masuk "sekaligus" — ini justru yang paling singkat
Caranya sederhana sekali. Dengarkan satu frasa puluhan kali beruntun, dan setiap kali ikut lirihkan di mulut. Cuma itu. Bukan menjilat tipis kata-kata yang tercerai-berai satu kali per kata, melainkan memusatkan pengulangan pada satu gumpalan. Maka bunyi, ritme, dan makna menyatu menjadi satu bongkah, dan langsung tertanam "sekaligus" saat itu juga. Terlihat memutar, tapi inilah rute yang paling singkat waktunya. Pelafalan maupun penyimakan bukan pengetahuan, melainkan keterampilan gerak + persepsi, dan keterampilan hanya mengeras lewat "pengulangan terpusat pada satu unit yang benar". Sepuluh menit pengulangan terpusat lebih pasti menggerakkan mulut dan telinga daripada satu jam membaca dalam hati. Lagi pula, karena dilakukan dengan bunyi yang benar sejak awal, pekerjaan mengupas belakangan (= waktu minus tadi) menjadi nol.
Cara memperbaikinya sederhana — "bunyi dulu, tulisan belakangan (atau sepaket)"
Solusinya sederhana sampai bikin lemas. Masukkan bunyi yang benar lewat telinga lebih dulu. Setelah itu tirukan dengan bersuara, dan pakai tulisan sekadar sebagai petunjuk. Urutannya selalu "dengar → tiru → ulangi sampai tertanam". Membaca datang sesudahnya. Kalau bunyi yang benar sudah kamu masukkan di awal, maka ribuan pengulangan sesudahnya semuanya menjadi tabungan ke "arah yang benar". Yang kamu hemat cuma beberapa puluh detik pertama, yang kamu korbankan ratusan kali lipatnya — asuransi termurah selalu asuransi yang kamu pasang paling awal.